Ratusan warga Israel turun ke jalan pada Rabu (28/10) untuk menyuarakan tuntutan pembentukan pemerintahan gabungan antara partai Yahudi dan Arab. Aksi massa yang berlangsung di Paris Square Yerusalem, Unesco Square Haifa, serta Taman Mesila Tel Aviv ini mencerminkan desakan publik agar kekuatan oposisi bersatu demi mengakhiri masa jabatan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Atribut dan Seruan Demonstran
Dalam aksi yang berlangsung damai tersebut, demonstran membawa sejumlah atribut bertuliskan “Ya, untuk pemerintahan Yahudi-Arab” dan “Kebebasan untuk semua, from river to the sea”. Seruan ini muncul di tengah kebuntuan politik pasca-pemilihan umum yang menunjukkan hasil perolehan suara belum memihak blok mayoritas. Untuk membentuk pemerintahan di Israel, diperlukan setidaknya 61 kursi dari total 120 kursi parlemen (Knesset).
Hasil penghitungan suara menunjukkan peta kekuatan yang terpecah. Berdasarkan data Komite Pusat Pemilihan Israel per Kamis (29/10), blok Netanyahu baru mengamankan 52 kursi, sementara partai pimpinan eks panglima militer Gadi Eisenkot, Yashar, mengantongi 48 kursi. Di sisi lain, sumber dari Fox News melaporkan data penghitungan mencapai 93,8 persen dengan proyeksi blok Netanyahu meraih 53 kursi dan kubu Eisenkot sebanyak 48 kursi. Angka-angka ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun blok yang mampu mencapai ambang batas mayoritas secara mandiri, sehingga negosiasi koalisi menjadi jalan yang tak terhindarkan.
Keberadaan partai-partai Arab Israel kini menjadi variabel penentu. Partai Joint List dan Ra’am diproyeksikan menguasai total 19 hingga 20 kursi. Ahmad Tibi, pemimpin blok Joint List, secara terbuka menyatakan kesiapan partainya untuk bekerja sama dengan “blok perubahan”. Posisi partai Arab yang strategis ini menjadikan mereka sebagai penentu arah pemerintahan berikutnya, sebuah situasi yang jarang terjadi dalam sejarah politik Israel modern.
Aliansi Oposisi dan Tekanan terhadap Petahana
Aliansi oposisi ini terdiri dari Yashar, Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, Beyachad pimpinan Naftali Bennett, serta Yisrael Beiteinu pimpinan Avigdor Lieberman. “Partisipasi pemilih Arab yang sangat tinggi merupakan pencapaian bersejarah. Aliansi ini menjawab seruan masyarakat untuk bersatu dan membuktikan bahwa mereka merupakan kekuatan penentu,” ujar Tibi dalam pernyataan tertulis yang diterima Anadolu Agency. Ia menambahkan bahwa fokus utamanya adalah menggulingkan pemerintahan Netanyahu-Ben-Gvir, dimulai dengan mencopot Ketua Knesset Amir Ohana.
Situasi politik di lapangan semakin memanas seiring dengan tekanan dari kubu petahana. Laporan The Hindu menyebutkan bahwa kubu Netanyahu melontarkan tuduhan terkait dugaan pendanaan asing yang menyasar para pemimpin Arab Israel. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir bahkan melangkah lebih jauh dengan mendesak penangkapan terhadap para pemimpin partai Arab tersebut. Upaya ini dilakukan di tengah kekhawatiran mengenai ketidakpastian proses koalisi dan bayang-bayang ancaman konflik regional yang terus membayangi kawasan.
Tingginya partisipasi pemilih keturunan Arab dalam pemilu kali ini dipicu oleh rasa frustrasi terhadap kebijakan pemerintahan saat ini. Banyak warga Arab merasa terpinggirkan oleh retorika keras yang kerap dilontarkan pejabat negara terhadap komunitas mereka, yang serupa dengan perlakuan terhadap warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Kondisi tersebut mendorong mereka untuk lebih aktif menggunakan hak suara sebagai bentuk perlawanan politik yang sah dan terukur di dalam sistem demokrasi Israel.
Dampak dan Prospek Politik ke Depan
Hingga saat ini, baik kubu Netanyahu maupun Eisenkot belum mampu mencapai ambang batas 61 kursi, yang membuka peluang negosiasi koalisi yang alot atau bahkan ancaman pemilihan umum ulang jika jalan buntu terus berlanjut. Situasi ini menempatkan Israel pada titik kritis dalam lanskap politiknya, di mana kemampuan partai-partai untuk berkompromi akan menentukan stabilitas pemerintahan dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi publik Israel sendiri, desakan agar kekuatan oposisi bersatu mencerminkan keinginan kuat untuk keluar dari siklus ketidakpastian politik yang berulang. Aksi demonstrasi di tiga kota besar tersebut menunjukkan bahwa tuntutan perubahan tidak hanya datang dari elite politik, tetapi juga dari lapisan masyarakat akar rumput yang menginginkan pemerintahan yang lebih inklusif dan representatif. Apabila blok perubahan berhasil menyatukan langkah, termasuk dengan partai-partai Arab, maka peta kekuasaan di Israel berpotensi mengalami pergeseran signifikan. Namun apabila negosiasi gagal, risiko pemilu ulang yang akan semakin melelahkan publik tetap terbuka lebar, sembari menambah beban biaya politik dan sosial bagi negara tersebut.
