Dewi Perssik Ingatkan Asmara Anak Jangan Ganggu Akmil

Penyanyi dangdut Dewi Perssik kembali menjadi perbincangan publik setelah membuka cerita tentang kehidupan asmara putranya, Felice Gabriel, yang sedang menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil). Kepada awak media, ia mengaku cukup sering menerima curhatan dari sang anak soal urusan hati, tetapi sekaligus menyampaikan pesan tegas agar pendidikan militer tetap menjadi prioritas utama.

Curhat Asmara di Tengah Tempaan Pendidikan Militer

Dewi Perssik menyebut putranya kerap berbagi cerita mengenai hubungan emosional yang tengah dijalaninya. Sebagai ibu, ia memilih bersikap terbuka dan mendengarkan, alih-alih langsung melarang. Menurutnya, komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak jauh lebih penting dibandingkan sikap otoriter yang justru bisa membuat anak menutup diri dan menyembunyikan persoalan yang dihadapinya.

Meski begitu, pedangdut yang akrab disapa Depe ini menegaskan bahwa dukungan terhadap hubungan asmara sang anak memiliki batas yang jelas. Ia tidak ingin urusan pribadi tersebut mengganggu konsentrasi Felice selama menjalani pendidikan di Akmil. Baginya, setiap detik waktu yang dihabiskan di lembaga pendidikan militer itu sangat berharga dan tidak boleh dikotori oleh persoalan yang bisa ditunda atau diselesaikan dengan kepala dingin.

Pesan tersebut disampaikan Dewi Perssik dengan nada seorang ibu yang menaruh harapan besar. Ia menyadari bahwa menjadi kadet di Akmil bukanlah perkara mudah. Ada jadwal latihan yang padat, aturan disiplin yang ketat, serta tuntutan fisik dan mental yang harus dijalani setiap hari. Dalam kondisi seperti itu, tambahan tekanan dari urusan percintaan yang berlarut-larut tentu bisa menjadi beban yang mengganggu performa akademik maupun lapangan.

Akmil dan Beratnya Tanggung Jawab Seorang Kadet

Akademi Militer di Magelang, Jawa Tengah, merupakan institusi pendidikan yang mencetak perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Proses pendidikan di sana dikenal sangat disiplin, dengan pembinaan karakter yang mencakup aspek fisik, intelektual, mental, dan moral. Para kadet menjalani kehidupan berasrama dengan pembatasan tertentu, termasuk keterbatasan akses komunikasi dengan keluarga maupun penggunaan perangkat telekomunikasi. Karena itu, kabar yang sampai kepada orang tua biasanya hanya pada waktu-waktu tertentu yang telah dijadwalkan.

Dalam konteks tersebut, cerita tentang curahan hati seorang kadet kepada ibunya menjadi hal yang wajar. Remaja dan pemuda yang menjalani pendidikan berat kerap membutuhkan ruang aman untuk melepaskan tekanan, dan keluarga merupakan tempat paling nyaman untuk melakukannya. Sejumlah pemerhati pendidikan menilai bahwa dukungan emosional dari orang terdekat justru berperan penting dalam menjaga stabilitas psikologis peserta didik di lingkungan yang menuntut ketahanan tinggi.

Di sisi lain, kisah Dewi Perssik ini juga memperlihatkan pergeseran cara pandang sebagian orang tua terhadap anak yang menempuh pendidikan kedinasan. Orang tua tidak lagi semata-mena menekankan ketaatan tanpa ruang diskusi, tetapi berupaya menempatkan diri sebagai pendengar yang suportif. Pendekatan semacam ini dinilai lebih efektif untuk membentuk kedewasaan, selama tetap disertai batasan yang jelas agar prioritas utama tidak bergeser.

Antara Dukungan Ibu dan Prioritas Masa Depan

Sikap Dewi Perssik sejalan dengan pandangan bahwa hubungan personal tidak seharusnya dihilangkan dari kehidupan seorang pelajar atau mahasiswa, termasuk kadet militer. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan waktu dan prioritas yang sehat. Urusan asmara boleh ada, tetapi tidak boleh mendominasi pikiran hingga mengorbankan hal-hal yang bersifat jangka panjang, seperti karier, prestasi, dan kepercayaan yang telah diberikan negara melalui institusi pendidikan.

Pesan agar pendidikan tidak terganggu juga menyiratkan harapan bahwa Felice mampu menyelesaikan pendidikannya dengan baik dan mengikuti jejak sebagai perwira. Bagi seorang ibu, keberhasilan anak menempuh jalur yang penuh disiplin tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun di balik kebanggaan itu, ada kekhawatiran yang wajar mengenai pengaruh lingkungan pertemanan, tekanan emosional, dan godaan kehidupan sosial di luar asrama.

Ke depan, publik tampaknya masih akan menantikan kabar kelanjutan pendidikan putra Dewi Perssik di Akmil. Terlepas dari sorotan terhadap kehidupan pribadi sang artis, kisah ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter, kedisiplinan, dan komunikasi hangat dalam keluarga merupakan tiga hal yang saling melengkapi. Dengan begitu, seorang anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh tanpa kehilangan kedekatan dengan orang tuanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *