Brighton Menang di Sunderland, Kokoh di Posisi Ketiga

Brighton meraih kemenangan 2-0 atas Sunderland dalam laga lanjutan Premier League yang berlangsung dramatis. Bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-57, tim tamu tetap mampu menjaga keunggulan dan memastikan tiga poin penuh. Hasil ini menjadi kemenangan ketiga beruntun Brighton tanpa kebobolan sekaligus mempertahankan posisi mereka di peringkat ketiga klasemen sementara.

Gol Babak Kedua dan Kartu Merah yang Mengubah Jalannya Laga

Brighton membuka keunggulan pada menit ke-53 melalui Maxim De Cuyper. Bek sayap itu menerima umpan terukur dari kapten Pascal Groß sebelum melepaskan tembakan rendah yang tidak mampu dihalau kiper Robin Roefs. Gol tersebut menjadi titik balik setelah kedua tim sempat saling mengancam di paruh pertama pertandingan.

Namun, situasi berubah drastis empat menit kemudian. Wasit Thomas Bramall mengeluarkan kartu merah untuk Pascal Struijk setelah meninjau insiden melalui VAR. Bek Brighton itu dinilai menjatuhkan Wilson Isidor ketika penyerang Sunderland tengah berpeluang menerobos ke arah gawang. Keputusan itu menuai perdebatan, terutama karena kontak yang terjadi dinilai tidak sepenuhnya jelas. Mike Dean, mantan wasit Premier League yang hadir sebagai komentator di Soccer Saturday, menilai hukuman tersebut terlalu keras dan berpendapat bahwa VAR seharusnya tidak mengubah keputusan awal wasit.

Meski harus bermain dengan sepuluh orang, Brighton justru tampil disiplin dan tidak memberi Sunderland banyak ruang. Tim asuhan Fabian Hurzeler mampu menahan gempuran tuan rumah sekaligus tetap berbahaya lewat serangan balik. Pada menit ke-90+3, Jaouen Hadjam yang masuk sebagai pemain pengganti memastikan kemenangan lewat gol kedua. Gol itu lahir dari skema serangan balik cepat: Georginio Rutter terlebih dahulu menahan bola, lalu mengirimkannya kepada Hadjam yang menuntaskan peluang dari sudut sempit.

Catatan Statistik dan Sejarah bagi Brighton

Kemenangan ini memperpanjang tren positif Brighton di kompetisi domestik. Tiga kemenangan liga beruntun tanpa kebobolan menjadi catatan yang baru kedua kali mereka capai di Premier League. Sebelumnya, Brighton pernah melakukannya pada Oktober 2018, ketika tim masih dilatih Chris Hughton. Pencapaian tersebut menunjukkan kematangan tim dalam mengelola pertandingan, terutama saat berada dalam tekanan dan kekurangan pemain.

Umpan Groß untuk gol De Cuyper juga menyimpan cerita tersendiri. Pada usia 35 tahun dan 117 hari, Groß resmi menjadi pemain tertua yang mencatatkan assist dalam tiga pertandingan Premier League secara beruntun sejak Ryan Giggs melakukannya pada Februari 2012. Peran sang kapten sebagai penggerak lini tengah menjadi kunci bagi Brighton dalam mengubah tekanan pertandingan, khususnya delapan menit setelah babak kedua dimulai. Kontribusinya tidak hanya soal angka, tetapi juga kepemimpinan yang menenangkan rekan-rekannya di momen-momen krusial.

Sunderland sendiri sebenarnya sempat memiliki peluang. Pada menit ke-22, umpan tarik Enzo Le Fée disambut Isidor, tetapi tembakannya berbelok setelah mengenai pemain lawan dan hanya membentur sisi luar tiang. Brighton juga hampir mencetak gol sebelum jeda ketika tendangan bebas Groß disundul Struijk hingga mengenai tiang gawang. Dua momen itu menjadi gambaran bahwa laga berjalan ketat sebelum kartu merah mengubah momentum.

Sunderland Gagal Memanfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain

Kegagalan Sunderland memanfaatkan keunggulan satu pemain menjadi catatan pahit bagi tim asuhan Regis Le Bris. Kekalahan ini membuat mereka menelan dua kekalahan kandang di liga secara beruntun tanpa mencetak gol untuk pertama kalinya sejak April/Mei 2017. Sunderland pun turun ke peringkat ke-16 klasemen, sebuah posisi yang menuntut perbaikan cepat jika ingin menjauh dari tekanan di papan bawah.

Le Bris juga menghadapi persoalan kebugaran Brian Brobbey. Penyerang tersebut mengalami cedera hamstring setelah menjalani tugas internasional bersama tim nasional Belanda dan absen dari susunan starter Premier League. Isidor memang mendapat kesempatan tampil sejak awal, tetapi belum mampu mencetak gol. Le Bris menyebut timnya belum cukup efisien dalam memanfaatkan peluang dan menekankan bahwa detail kecil dapat mengubah momentum pertandingan. Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah pemain muda harus menghadapi tantangan besar ketika memulai karier Premier League dalam situasi yang sulit.

Bagi Sunderland, ketidakmampuan mengonversi peluang melawan Brighton yang kekurangan pemain menjadi persoalan langsung: mereka pulang tanpa gol dan tanpa poin. Sementara itu, Hurzeler menegaskan bahwa ia tidak menjadikan posisi klasemen sebagai fokus utama. Menurut pelatih Brighton itu, perhatian timnya tetap pada performa dan proses, bukan penilaian yang berubah mengikuti hasil. Dengan tiga kemenangan beruntun tanpa kebobolan, Brighton kini membawa modal berharga menuju pertandingan berikutnya, sementara Sunderland harus segera mencari solusi agar tidak terus terpuruk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *