Aprilia untuk sementara memilih membiarkan para pebalapnya bersaing bebas dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026. Namun, strategi itu bisa berubah ketika kejuaraan tinggal menyisakan dua seri terakhir, terutama jika hanya satu pebalap Aprilia yang masih memiliki peluang matematis untuk menjadi juara. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO Aprilia, Massimo Rivola, di tengah ketatnya persaingan timnya dengan Marc Marquez.
Persaingan Ketat di Puncak Klasemen
Setelah dominasi Aprilia pada seri Mandalika akhir pekan lalu, Jorge Martin kini memimpin klasemen dengan koleksi 355 poin. Ia hanya unggul dua angka atas Marc Marquez yang terus membuntuti di posisi kedua. Sementara itu, pebalap Aprilia lainnya, Marco Bezzecchi, berada di urutan ketiga dengan 309 poin setelah berhasil memenangi grand prix di Sirkuit Mandalika. Dengan selisih yang begitu tipis, setiap balapan berpotensi mengubah peta persaingan secara signifikan.
Kejuaraan masih menyisakan lima seri, dengan balapan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Australia dalam dua pekan mendatang. Kondisi ini membuat Aprilia belum menetapkan prioritas kepada salah satu pebalapnya. Tim membiarkan Martin dan Bezzecchi bertarung secara sportif tanpa instruksi tim atau team order apa pun. Rivola menegaskan bahwa keputusan untuk membiarkan persaingan terbuka diambil dengan pertimbangan bahwa peluang gelar masih dimiliki oleh lebih dari satu pebalap.
Namun, membiarkan para pebalapnya bersaing bebas bukan tanpa risiko. Rivola mengakui bahwa strategi ini memiliki dua sisi yang perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Di satu sisi, Aprilia diuntungkan karena memiliki lebih banyak pebalap yang mampu bersaing memperebutkan kemenangan di setiap seri. Tetapi di sisi lain, para pebalap berpotensi saling mengambil poin satu sama lain, yang justru dapat menguntungkan rival utama mereka, Marc Marquez.
Kapan Team Order Mulai Dipertimbangkan
Menurut Rivola, team order baru akan dipertimbangkan pada dua seri terakhir MotoGP 2026. Syarat utamanya adalah situasi klasemen harus membuat hanya satu pebalap Aprilia yang secara matematis masih berpeluang menjadi juara dunia. Selama peluang itu masih terbuka bagi lebih dari satu pebalap, tim belum akan menetapkan prioritas atau memerintahkan salah satu pebalap untuk mengalah demi kepentingan yang lain.
“Selama perhitungan matematis masih memungkinkan, persaingan tetap terbuka,” ujar Rivola, seperti dikutip The Race. Pernyataan ini menegaskan batas pendekatan yang akan diambil tim asal Italia tersebut. Aprilia ingin tetap menghormati semangat kompetisi, tetapi juga tidak menutup kemungkinan mengambil langkah strategis jika kondisi menuntut demi mengamankan gelar juara dunia.
Keputusan semacam ini bukan hal baru dalam dunia MotoGP. Sejumlah tim pabrikan kerap menerapkan team order ketika peluang gelar juara hanya tersisa pada satu pebalap. Langkah tersebut biasanya diambil untuk memaksimalkan perolehan poin dan menghindari risiko kehilangan gelar akibat persaingan internal yang terlalu ketat. Bagi Aprilia, keputusan ini menjadi semakin penting mengingat persaingan dengan Marquez berlangsung sangat sengit.
Implikasi bagi Perebutan Gelar
Martin saat ini memegang keunggulan paling tipis di puncak klasemen, dengan Marquez hanya terpaut dua poin di belakangnya. Posisi Bezzecchi di urutan ketiga juga masih sangat kompetitif dan belum bisa diabaikan. Dengan lima seri yang masih tersisa, hasil setiap balapan masih dapat mengubah susunan klasemen secara drastis. Hal ini membuat Aprilia harus cermat dalam menentukan kapan strategi kolektif perlu diterapkan.
Jika dua pebalap Aprilia terus bersaing bebas tanpa pengaturan, peluang mereka meraih kemenangan di setiap seri memang lebih besar. Namun, risiko kehilangan poin akibat saling menyalip di lintasan menjadi ancaman nyata yang bisa dimanfaatkan oleh Marquez. Inilah dilema yang harus dihadapi Rivola dan jajaran tim Aprilia dalam beberapa pekan ke depan.
Pada akhirnya, pilihan Aprilia akan sangat bergantung pada perkembangan klasemen usai seri-seri berikutnya. Selama peluang gelar masih terbuka bagi lebih dari satu pebalap, tim belum akan menetapkan prioritas. Dua seri terakhir akan menjadi titik evaluasi jika persaingan internal berubah menjadi hambatan bagi peluang juara. Dengan kompetisi yang semakin memanas, keputusan Aprilia mengenai team order berpotensi menjadi salah satu faktor penentu dalam perburuan gelar juara dunia MotoGP 2026.
