Sydney FC melakukan perombakan besar pada skuad mereka setelah finis di posisi ke-10 pada musim lalu dan gagal mencapai putaran final A-League Women selama dua musim berturut-turut. Perubahan menyeluruh tersebut menjadi ujian berat bagi James Slaveski, yang akan menjalani musim penuh pertamanya sebagai pelatih permanen klub pada kompetisi 2026/27. Klub asal Australia itu kini berada di persimpangan penting setelah kehilangan sejumlah pemain berpengalaman sekaligus mendatangkan wajah-wajah baru demi mengejar tiket ke fase gugur.
Kepergian Pemain Berpengalaman Jadi Tantangan Terbesar
Menurut ulasan Her Football Hub yang diterbitkan pada 15 Oktober 2026, gelandang Mackenzie Hawkesby meninggalkan Sydney FC setelah tujuh musim membela klub. Ia mencatatkan 114 penampilan dan mencetak 28 gol, sebuah catatan yang menempatkannya sebagai salah satu figur penting di lini tengah tim. Kehilangan pemain dengan pengalaman sepanjang itu membuat perombakan sektor tengah menjadi salah satu pekerjaan paling mendesak bagi Slaveski. Hawkesby bukan sekadar pemain reguler, melainkan sosok yang menjadi penghubung antara lini belakang dan serangan selama bertahun-tahun.
Selain Hawkesby, Sydney FC juga melepas sejumlah nama lain seperti Hana Lowry, Tori Tumeth, Abbey Lemon, dan Caley Tallon-Henniker. Di bawah mistar gawang, penjaga gawang asal Amerika Serikat, Heather Hinz, memilih kembali ke negaranya untuk bergabung dengan Fort Lauderdale United. Sementara itu, Madison Ayson kembali memperkuat Canberra United setelah hanya satu musim berseragam Sydney FC. Rangkaian kepergian ini menciptakan kekosongan di hampir seluruh lini, mulai dari pertahanan, lini tengah, hingga lini depan.
Rentetan perubahan itu terjadi setelah Sydney FC mengakhiri musim di luar persaingan putaran final. Kegagalan tersebut pada akhirnya mengakhiri masa kepelatihan Ante Juric. Slaveski kemudian mengambil alih kursi pelatih sebagai pelatih sementara sebelum akhirnya mendapat jabatan permanen pada masa jeda kompetisi. Dengan status barunya, Slaveski kini memiliki kesempatan penuh untuk membangun tim sesuai visinya, namun ia juga menanggung beban ekspektasi yang lebih besar.
Musim mendatang akan menjadi ujian untuk melihat apakah perubahan di bangku pelatih dan komposisi pemain mampu mengangkat performa tim. Target klub bukan sekadar kembali ke fase final. Menurut Her Football Hub, Sydney FC juga ingin bersaing memperebutkan gelar juara setelah dua musim tanpa tiket ke putaran final. Ambisi tersebut menuntut kestabilan performa yang belum mereka tunjukkan dalam beberapa musim terakhir.
Rekrutan Baru untuk Mengisi Sejumlah Sektor
Untuk memperkuat posisi penjaga gawang, Sydney FC mendatangkan kembali Jada Whyman. Kiper berusia 26 tahun itu pulang ke Australia setelah menghabiskan dua tahun terakhir bersama AIK di Swedia. Pengalaman bermain di kompetisi Eropa diharapkan memberi nilai tambah bagi lini pertahanan Sydney FC, sekaligus menjadi opsi utama di bawah mistar setelah kepergian Hinz. Kehadiran Whyman juga dinilai dapat memberikan rasa aman bagi barisan bek yang tengah dibangun ulang.
Di lini tengah, Amy Chessari direkrut dari Western Sydney. Her Football Hub menggambarkan pemain muda itu sebagai sosok agresif dengan kemampuan tekel yang kuat. Profil tersebut dapat memberi Slaveski tambahan pilihan untuk membangun kembali sektor tengah yang ditinggalkan Hawkesby. Kemampuannya memenangkan duel di lapangan tengah menjadi elemen yang dibutuhkan tim yang ingin tampil lebih kompetitif.
Riley Cohn, yang sebelumnya menggunakan nama Tanner, juga kembali memperkuat klub. Ia menjadi pencetak gol terbanyak Sydney FC musim lalu dengan lima gol. Klub berharap kontribusinya meningkat pada musim mendatang, terutama saat tim berusaha memperbaiki hasil di kompetisi. Ketajaman Cohn akan sangat menentukan seberapa jauh Sydney FC mampu melangkah, mengingat produktivitas gol menjadi salah satu persoalan utama tim dalam dua musim terakhir.
Sydney FC turut merekrut tiga pemain asal Amerika Serikat, yakni bek Kiley Dulaney, gelandang Kenzie Rowling, dan penyerang Faith Webber. Ketiganya belum teruji di lingkungan baru mereka. Adaptasi terhadap kompetisi, iklim, dan rekan setim akan menjadi bagian penting dari upaya Slaveski meramu susunan pemain. Para pemain asing ini menawarkan dimensi baru, namun juga membawa risiko ketidakpastian yang harus dikelola dengan baik oleh tim pelatih.
Dampak pada Pembangunan Tim dan Prospek Musim Depan
Perubahan ini berdampak langsung pada cara Sydney FC membangun tim untuk musim 2026/27. Slaveski harus mengisi posisi yang ditinggalkan pemain lama sekaligus memberi peran jelas kepada para pendatang. Rekrutan yang sudah mengenal sepak bola Australia, seperti Chessari dan Whyman, dapat membantu mempercepat proses adaptasi, sementara pemain dari luar negeri menawarkan pilihan baru yang masih harus dibuktikan di lapangan. Perpaduan tersebut akan menentukan seberapa cepat skuad menemukan kestabilan dan konsistensi permainan.
Sydney FC memasuki kompetisi 2026/27 dengan target yang jelas, tetapi perombakan skuad belum menjamin tiket ke fase final. Sejarah menunjukkan bahwa tim dengan banyak pemain baru sering membutuhkan waktu untuk menemukan chemistry yang tepat. Ukuran awal bagi Slaveski adalah menyatukan skuad baru setelah tim finis di posisi ke-10 musim lalu. Jika proses itu berjalan mulus, Sydney FC berpeluang kembali bersaing di papan atas, namun jika sebaliknya, klub berisiko kembali gagal mencapai putaran final untuk musim ketiga berturut-turut.
Pada akhirnya, musim mendatang akan menjadi cerminan keberhasilan strategi perombakan yang diambil manajemen. Bagi para pendukung Sydney FC, harapan besar menyertai kehadiran nama-nama baru, tetapi pembuktian sesungguhnya hanya akan terlihat di atas lapangan sepanjang kompetisi berjalan.
