Nita Gunawan Operasi Rekonstruksi Usai Filler dan Benang di Wajah

Artis Nita Gunawan memilih menjalani prosedur medis di Shanghai, Tiongkok, untuk mengeluarkan sisa filler dan benang yang tertanam di wajahnya. Langkah tersebut diambil setelah ia mengalami kerusakan jaringan akibat perawatan estetika yang sebelumnya dijalani. Biaya prosedur rekonstruksi ini disebut mencapai ratusan juta rupiah.

Kerusakan Jaringan Akibat Filler dan Tanam Benang

Filler dan tanam benang memang menjadi dua perawatan estetika yang paling populer dalam beberapa tahun terakhir. Filler bekerja dengan menyuntikkan bahan pengisi ke lapisan bawah kulit untuk mengembalikan volume wajah, menghaluskan kerutan, atau membentuk kontur tertentu. Sementara tanam benang atau thread lift dilakukan dengan memasukkan benang khusus di bawah kulit yang kemudian ditarik untuk mengangkat jaringan yang mulai kendur. Kedua prosedur ini menawarkan hasil yang terlihat cepat, sehingga banyak diminati, termasuk di kalangan selebritas yang dituntut tampil prima di depan kamera.

Namun, di balik kepraktisannya, kedua prosedur tersebut menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Filler yang disuntikkan oleh tenaga tidak kompeten, menggunakan bahan tidak resmi, atau dilakukan dengan teknik yang salah dapat menyebabkan komplikasi serius. Risiko itu antara lain terbentuknya benjolan atau granuloma, infeksi, peradangan berkepanjangan, hingga migrasi bahan filler ke area wajah yang tidak diinginkan. Sementara itu, tanam benang berisiko menimbulkan benang yang terlihat menonjol di bawah kulit, nyeri, infeksi, penarikan jaringan yang tidak simetris, hingga kerusakan jaringan bila benang dipasang terlalu dalam atau terlalu banyak dalam satu area. Pada kasus yang lebih berat, jaringan di sekitar bahan asing tersebut dapat mengalami fibrosis atau pembentukan jaringan parut yang membuat wajah terasa kaku dan tidak nyaman.

Kondisi inilah yang tampaknya dialami Nita Gunawan. Ketika jaringan sudah rusak dan bahan asing tertanam cukup lama, pengeluaran tidak lagi bisa dilakukan dengan cara sederhana. Diperlukan prosedur rekonstruksi yang lebih kompleks, karena dokter harus memetakan posisi bahan filler maupun benang secara presisi agar tidak merusak saraf, pembuluh darah, dan struktur wajah lainnya. Kesalahan sekecil apa pun berpotensi menimbulkan dampak permanen pada fungsi maupun penampilan wajah.

Alasan Memilih Prosedur Rekonstruksi di Shanghai

Pemilihan Shanghai sebagai lokasi prosedur bukan tanpa alasan. Kota tersebut dikenal sebagai salah satu pusat layanan medis estetika dan bedah rekonstruksi di Asia, dengan fasilitas penunjang seperti pemeriksaan pencitraan untuk mendeteksi keberadaan bahan asing di wajah. Dalam kasus pengeluaran filler dan benang, pencitraan semacam ultrasound atau MRI kerap digunakan untuk melihat sebaran bahan di lapisan kulit dan jaringan di bawahnya. Dengan begitu, dokter bisa merencanakan tindakan yang lebih terukur dibandingkan sekadar mengandalkan pemeriksaan visual.

Selain itu, operasi rekonstruksi wajah pasca-komplikasi estetika menuntut pemahaman mendalam tentang anatomi wajah, termasuk letak saraf wajah dan aliran pembuluh darah. Prosedur ini biasanya dilakukan secara bertahap. Pada tahap awal, dokter berfokus pada pengeluaran bahan asing dan penanganan peradangan atau infeksi. Setelah jaringan stabil, barulah tahap pemulihan bentuk dan fungsi wajah dilakukan, misalnya melalui perbaikan jaringan yang mengalami kerusakan. Karena itu, pasien umumnya perlu menjalani masa pemulihan yang cukup panjang serta kontrol berkala untuk memantau perkembangan jaringan.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk prosedur semacam ini pun tidak kecil. Nita Gunawan disebut merogoh kocek hingga ratusan juta rupiah, mencakup biaya tindakan medis, pemeriksaan penunjang, obat-obatan, hingga perawatan pascaprosedur. Angka tersebut tentu jauh lebih besar dibandingkan biaya perawatan estetika awal yang ia jalani, sebuah ironi yang sering terjadi pada kasus komplikasi kecantikan.

Pengalaman ini membuat Nita Gunawan mengaku kapok menjalani tanam benang maupun filler. Pernyataan tersebut setidaknya menjadi cermin betapa pentingnya pertimbangan matang sebelum memutuskan melakukan tindakan estetika. Masyarakat diimbau untuk memastikan bahwa tindakan dilakukan oleh dokter yang kompeten di fasilitas resmi, serta memastikan bahan yang digunakan memiliki izin edar. Tren kecantikan memang cepat berubah, tetapi kesehatan kulit dan jaringan wajah bersifat permanen. Kisah Nita Gunawan pun menjadi pengingat bahwa hasil instan dari prosedur estetika selalu datang dengan risiko yang perlu dipahami sejak awal, bukan setelah kerusakan terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *