Liverpool memastikan langkah ke perempat final Piala Liga setelah menyingkirkan Chelsea melalui adu penalti di Stadion Anfield. Laga berlangsung ketat dan harus diselesaikan dari titik putih setelah kedua tim bermain imbang pada waktu normal, dengan Wesley Fofana menjadi eksekutor yang gagal menuntaskan tendangan penentu bagi Chelsea.
Drama dari Titik Putih di Anfield
Pertemuan di Anfield kembali menyajikan cerita yang akrab bagi kedua klub. Chelsea sebenarnya sempat berada di depan lebih dulu ketika penalti diberikan setelah Caicedo berhasil masuk ke area penalti Liverpool melalui umpan tersamar dari Malo Gusto. Ryan Gravenberch menjatuhkannya dari belakang saat kedua pemain bergerak menjauhi gawang, dan wasit Darren England langsung menunjuk titik putih. Morgan Rogers yang maju sebagai eksekutor berhasil mengirim Giorgi Mamardashvili ke arah yang salah sehingga Chelsea unggul.
Jawaban Liverpool datang tidak lama kemudian. Berawal dari situasi sepak pojok yang dieksekusi Kostas Tsimikas, bola mengenai tangan Fofana yang terangkat setelah ia dan Caicedo berduel dengan Virgil van Dijk di dalam kotak penalti. Tanpa bantuan VAR, England kembali menunjuk titik putih dan Cody Gakpo menuntaskan tugasnya dengan menempatkan bola rendah ke sisi kanan gawang Mike Penders, yang bergerak ke arah berlawanan. Keputusan cepat wasit itu membuat alur pertandingan tetap mengalir, meski sempat ada momen lain yang berpotensi memicu perdebatan, yaitu ketika Rogers terlihat mengontrol umpan Pedro Neto dengan lengan sebelum peluangnya digagalkan Mamardashvili.
Adu penalti kemudian menghadirkan tekanan yang berbeda. Emmanuel Emegha sebenarnya berpeluang mengantar Chelsea menang, tetapi Mamardashvili membaca arah eksekusinya dengan baik. Tsimikas gagal mengulang peran penentu seperti yang ia lakukan di Wembley pada 2022, sementara Ryan Gravenberch dan Valentin Barco juga tidak berhasil mencetak gol dari titik putih. Fofana akhirnya menjadi nama yang paling menentukan ketika tendangannya melambung tinggi melewati sasaran, memastikan Liverpool lolos. Hasil ini menambah catatan buruk Chelsea dalam adu penalti melawan Liverpool setelah sebelumnya kalah dalam empat pertemuan serupa.
Perubahan Pemain dan Absennya Sosok Kunci
Pertandingan berlangsung cepat dan penuh kontak, tetapi peluang bersih tidak banyak muncul sebelum dua penalti beruntun tercipta. Rio Ngumoha beberapa kali memancing reaksi suporter lewat tusukan dari sisi kiri, namun umpan akhir Liverpool belum cukup tajam untuk benar-benar mengancam. Chelsea juga kesulitan menembus pertahanan tuan rumah yang rapat dan disiplin dalam menjaga ruang.
Pelatih Liverpool Andoni Iraola memasukkan Florian Wirtz dan Bradley Barcola pada menit ke-59. Pergantian itu memberi tuan rumah tenaga baru, tetapi Chelsea justru menutup laga dengan beberapa serangan berbahaya. Penders menepis sundulan Ronald Araujo dari jarak dekat, lalu menggagalkan tembakan Barcola yang mengarah ke sudut bawah gawang. Rogers tetap menjadi sumber ancaman Chelsea dalam fase transisi; ia melepas umpan terukur kepada Marco Palestra, tetapi Mamardashvili kembali membuat penyelamatan penting. Wirtz mendapat kesempatan pada fase akhir, namun tembakannya setelah menerima bola dari Gakpo membentur Levi Colwill dan dibersihkan barisan belakang Chelsea.
Susunan Chelsea turut dibentuk oleh absennya João Pedro dan Cole Palmer. Pedro menepi karena cedera paha yang membuatnya harus absen selama beberapa pekan, sebagaimana pernyataan Xabi Alonso yang dikutip Antara. Pelatih Chelsea itu menyebut penyerangnya belum siap tampil dalam beberapa pertandingan mendatang, sementara Palmer absen karena skorsing. Alonso pun memilih Danny Welbeck dengan Jordan Henderson bergerak di belakangnya. Absennya dua pemain itu mempersempit pilihan serangan Chelsea, terutama saat tim membutuhkan cara untuk memecah pertahanan Liverpool yang bermain disiplin.
Modal Berharga bagi Langkah Liverpool
Bagi Liverpool, kelolosan ini menjadi modal penting untuk memasuki perempat final setelah melewati laga yang tidak banyak memberi ruang bagi kedua tim. Pertandingan menegaskan bahwa kualitas individu dan ketenangan dalam situasi tekanan tinggi menjadi pembeda, terutama ketika permainan terbuka cenderung minim peluang. Mamardashvili tampil sebagai sosok kunci melalui penyelamatan saat pertandingan berjalan maupun di adu penalti, sementara Fofana harus menanggung beban kegagalan eksekusi penentu.
Hasil ini juga menambah panjang catatan pertemuan kedua klub di kompetisi piala, termasuk sejumlah laga di kompetisi Eropa dan final piala domestik yang kerap berakhir dramatis. Chelsea, yang datang dengan pilihan serangan terbatas, tetap mampu menciptakan peluang melalui Rogers dan Palestra hingga babak akhir, tetapi tidak mampu menutup laga sebelum adu penalti. Bagi Liverpool, konsistensi dalam menghadapi tekanan akan menjadi kunci; jadwal dan lawan berikutnya di perempat final akan menentukan apakah momentum ini dapat dibawa lebih jauh.
