Crystal Palace meraih kemenangan penting 1-0 atas Fulham dalam laga kompetisi piala domestik yang digelar di markas Fulham. Gol tunggal Eddie Nketiah tidak hanya mengantar Palace ke perempat final untuk ketiga kalinya secara beruntun, tetapi juga memberi pelatih Pierre Sage ruang bernapas di tengah tekanan yang meningkat menjelang pertemuan dengan Tottenham pada Sabtu mendatang.
Satu Serangan yang Mengubah Arah Pertandingan
Fulham memulai pertandingan dengan intensitas yang jauh lebih tinggi. Kenny Tete nyaris membuka keunggulan melalui sundulan setelah situasi sepak pojok, sementara kiper Dean Henderson harus berjibaku menggagalkan tembakan Antonee Robinson menggunakan kakinya. Penampilan Henderson itu terasa istimewa karena ia baru kembali ke bawah mistar setelah absen selama sebulan akibat cedera.
Tekanan tuan rumah berlanjut. Bek Denmark Joachim Andersen, yang pernah berseragam Fulham, mendapat peluang emas dari sepak pojok namun gagal mengarahkan bola ke gawang mantan klubnya. Crystal Palace tampak kesulitan membangun serangan dan lebih banyak bertahan. Dalam kurun setengah jam pertama, tim tamu bahkan tidak mencatat satu pun sentuhan di kotak penalti Fulham, dengan penguasaan bola hanya berkisar 22 persen. Statistik itu menggambarkan betapa dominannya Fulham pada fase awal laga.
Namun, sepak bola kerap berbalik hanya lewat satu momen. Óscar Mingueza menemukan ruang di sisi kanan dan melepaskan umpan silang terukur. Nketiah menyambutnya dengan tendangan voli yang tidak mampu diantisipasi Benjamin Lecomte. Gol itu lahir saat Fulham sedang berada di atas angin, sehingga mengubah suasana stadion secara drastis dan membuat pendukung tuan rumah sulit menerima kenyataan bahwa mereka tertinggal. Sander Berge sempat berpeluang menyamakan kedudukan sebelum turun minum, tetapi sundulannya melambung jauh di atas mistar gawang.
Rotasi Besar dan Peran Kunci Henderson
Pierre Sage melakukan perombakan hampir menyeluruh pada susunan pemainnya setelah tim menjalani rangkaian jadwal yang berat. Crystal Palace sebelumnya harus bertandang ke Istanbul untuk menghadapi Besiktas di Liga Europa, lalu kembali menghadapi Newcastle hanya tiga hari berselang. Chris Richards menjadi satu-satunya pemain yang dipertahankan dari pertandingan sebelumnya. Rotasi tersebut membuat Palace tampak belum padu, termasuk bagi Cheick Doucouré yang menjalani laga senior pertamanya di lini tengah sejak Januari 2025 setelah berulang kali dibekap cedera.
Fulham, yang melakukan enam perubahan, tetap mempertahankan sejumlah pemain penting seperti Alex Iwobi dan kapten tim Calvin Bassey. Keputusan itu sempat membuat tuan rumah tampil lebih solid dan agresif. Memasuki babak kedua, Palace mulai tampil lebih berani. Evann Guessand memaksa Lecomte melakukan penyelamatan di tiang dekat, sementara Fulham memperoleh peluang emas melalui Iwobi yang sundulannya disapu Jefferson Lerma tepat di garis gawang. Ancaman tuan rumah belum berakhir hingga masa tambahan waktu, ketika Henderson kembali menjadi penyelamat dengan menggagalkan peluang Gonzalo García. Penyelamatan itu memastikan keunggulan Palace bertahan hingga peluit akhir dan menegaskan betapa menentukan kembalinya sang kiper.
Kemenangan yang Memberi Waktu, Bukan Jaminan
Hasil ini meredakan tekanan yang terus membesar terhadap Sage, tetapi belum menjamin posisinya dalam jangka panjang. Pertemuan dengan Tottenham pada Sabtu disebut memiliki pengaruh lebih besar terhadap masa depan pelatih asal Prancis tersebut, sebelum kompetisi piala kembali bergulir pada pertengahan Desember. Dengan kata lain, kemenangan di markas Fulham berfungsi sebagai penunda tekanan, bukan solusi permanen.
Crystal Palace punya alasan kuat untuk percaya diri setiap kali bertandang ke markas Fulham. Mereka belum pernah kalah di stadion itu dalam sepuluh pertemuan sejak Januari 2005, dan kemenangan kali ini menjadi yang kelima di sana dalam 18 bulan terakhir. Satu catatan tambahan yang menguntungkan: Arsenal, yang pada dua kesempatan terakhir menyingkirkan Palace saat mereka mencapai perempat final, sudah tersingkir dari kompetisi musim ini. Fakta itu membuka peluang lebih besar bagi Palace untuk melangkah lebih jauh, bahkan kembali merasakan atmosfer Wembley.
Di sisi lain, kekalahan ini memutus laju positif Fulham dan pelatih Álvaro Arbeloa setelah dua kemenangan 1-0 atas Hull dan Coventry di Liga Primer. Fulham sempat menguasai jalannya pertandingan, menciptakan peluang, tetapi gagal mengubah dominasi menjadi gol. Pada akhir laga, suporter tuan rumah menyambut hasil tersebut dengan siulan, sementara pendukung Palace merayakan harapan baru di kompetisi piala.
Menariknya, kemenangan tandang ini hadir di tengah ketidakpuasan sebagian pendukung Crystal Palace terhadap kenaikan harga tiket dan kebijakan klub yang mereka nilai lebih mengutamakan wisatawan ketimbang penonton reguler. Sebagian suporter dikabarkan mempertimbangkan aksi protes sebelum laga kandang berikutnya melawan Liverpool. Untuk saat ini, gol Nketiah setidaknya memberi Sage waktu hingga ujian berikutnya, yaitu pertandingan melawan Tottenham pada Sabtu.
