Dunia hiburan Indonesia kembali menyoroti sisi lain dari proses produksi drama kolosal. Tiga aktor yang terlibat dalam proyek tersebut, yaitu Aris Kurniawan, Ahmad Affandy, dan Reiner Manopo, berbagi cerita tentang pengalaman ekstrem yang mereka alami selama masa syuting. Mulai dari badan yang penuh memar akibat adegan laga, hingga berat badan yang turun drastis sampai enam kilogram, menjadi gambaran betapa menantangnya pengerjaan drama bertema sejarah dan kerajaan.
Bukan Sekadar Berakting di Depan Kamera
Bagi sebagian penonton, drama kolosal mungkin hanya tampak sebagai tontonan megah dengan kostum indah dan latar kerajaan yang gagah. Namun di balik layar, para pemainnya dituntut menjalani proses yang jauh lebih berat daripada akting biasa. Adegan pertarungan, penggunaan senjata tradisional, hingga pengambilan gambar di lokasi yang menantang fisik menjadi bagian dari keseharian mereka selama berbulan-bulan. Aris Kurniawan, Ahmad Affandy, dan Reiner Manopo mengaku harus menerima risiko cedera ringan sebagai konsekuensi dari totalitas mereka dalam memerankan karakter.
Memar di sejumlah bagian tubuh menjadi hal yang hampir dianggap biasa. Benturan saat latihan koreografi laga, terjatuh ketika melakukan adegan akrobatik, atau kesalahan kecil saat mengayunkan properti senjata kerap meninggalkan bekas luka yang tidak terlihat kamera. Para aktor ini menuturkan bahwa proses latihan dilakukan secara intensif sebelum pengambilan gambar, sebab adegan pertarungan dalam drama kolosal menuntut gerakan yang presisi agar tetap aman sekaligus terlihat meyakinkan di layar. Meski demikian, rasa lelah dan nyeri tidak jarang harus ditahan demi hasil akhir yang maksimal.
Selain cedera fisik, tuntutan penampilan juga menjadi tantangan tersendiri. Penurunan berat badan hingga enam kilogram yang dialami salah satu dari mereka menunjukkan bahwa persiapan peran tidak berhenti pada pendalaman karakter. Ada kebutuhan untuk menyesuaikan postur tubuh agar sesuai dengan sosok yang diperankan, baik demi alasan estetika kamera maupun demi kredibilitas cerita. Pola makan yang diatur ketat, jadwal latihan fisik, dan jam istirahat yang terbatas menjadi kombinasi yang menguras energi, terlebih ketika syuting dilakukan dalam waktu panjang dengan jadwal yang padat.
Di Balik Megahnya Produksi Drama Kolosal
Drama kolosal memang dikenal sebagai salah satu genre paling menantang dalam industri pertelevisian maupun platform digital di Indonesia. Biaya produksi yang besar, jumlah pemain yang banyak, serta kebutuhan properti dan tata rias yang detail membuat proses pengambilan gambar jauh lebih rumit dibanding drama bergenre modern. Lokasi syuting sering kali berada di luar kota dengan kondisi cuaca yang tidak selalu bersahabat. Para pemain harus tetap berada dalam kostum tebal berlapis-lapis meski harus beraktivitas di bawah terik matahari atau saat hujan turun.
Belum lagi durasi syuting yang panjang, sering kali melebihi jam kerja normal. Adegan-adegan besar yang melibatkan banyak figuran memerlukan koordinasi yang rumit dan pengulangan pengambilan gambar demi mendapatkan hasil terbaik. Dalam situasi seperti itu, kebugaran fisik serta ketahanan mental menjadi faktor penentu. Tidak sedikit aktor yang harus menyesuaikan pola istirahat, menjaga asupan makanan, dan melakukan perawatan tubuh agar tetap prima selama proses produksi berlangsung. Pengalaman yang dibagikan Aris Kurniawan, Ahmad Affandy, dan Reiner Manopo pun memperlihatkan bahwa di balik setiap adegan yang tampak gagah di layar, ada kerja keras yang jarang terlihat oleh penonton.
Kisah ketiganya sekaligus menjadi pengingat bahwa industri hiburan tanah air memiliki standar kerja yang demands tinggi, terutama untuk genre yang menuntut akurasi visual dan nuansa sejarah. Dedikasi seperti ini juga menjadi modal penting bagi keberhasilan sebuah drama kolosal dalam menarik perhatian penonton. Ketika hasil akhirnya mendapat respons positif, berbagai memar dan kilogram yang hilang itu pun dianggap sebagai bagian dari harga yang layak untuk dibayar.
