Pelatih Barcelona, Hansi Flick, menyoroti mentalitas penyerang mudanya, Lamine Yamal, menjelang laga melawan Getafe di Camp Nou. Flick menilai sikap pemain berusia 19 tahun itu yang selalu ingin bermain menjadi salah satu pendorong utama dirinya mendekati level terbaik dunia.
Flick Terkesan dengan Mentalitas Yamal
Flick tidak hanya menilai Lamine Yamal dari performanya di atas lapangan. Pelatih asal Jerman itu juga menyukai kemauan pemain muda tersebut untuk terus bermain, meski pengelolaan menit bermain tetap perlu mempertimbangkan kondisi fisik pemain yang masih belia. Sikap itu, menurut Flick, menjadi cerminan karakter yang jarang dimiliki pemain seusianya.
“Level permainannya sangat fantastis, termasuk bersama Spanyol. Saya melihatnya langsung di London, saya berada di tribun. Anda harus memikirkan para pemain dari sudut pandang yang berbeda. Cubarsi dan Lamine masih muda dan pulih lebih cepat. Jika dia bermain 60 atau 70 menit… itu tidak masalah,” kata Flick, dikutip dari Marca.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Flick melihat performa Yamal bersama Timnas Spanyol dan Barcelona sebagai bagian dari gambaran yang lebih luas. Ia juga menyinggung soal pengelolaan waktu bermain, sembari mengakui bahwa Yamal memang ingin berada di lapangan pada setiap menit pertandingan. Menurut Flick, hasrat bermain yang besar itu justru memperkuat tekad Yamal untuk terus berkembang.
“Meskipun dia ingin bermain di setiap menit. Dia sangat suka bermain. Dia akan menjadi pemain terbaik di dunia jika memang belum. Dia sudah berada di level teratas, sangat dekat. Jika dia terus melanjutkan performa seperti ini, berusaha untuk berkembang… dengan mentalitas seperti ini… saya sangat senang dengannya,” ujar Flick.
Kontribusi Yamal di Spanyol dan Barcelona
Catatan statistik Yamal di kedua tim memberi alasan bagi Flick untuk menaruh kepercayaan besar kepadanya. Bersama Timnas Spanyol di ajang UEFA Nations League, Yamal mencatatkan tiga gol dalam empat pertandingan. Sementara itu, bersama Barcelona, ia membukukan delapan gol dan enam assist dalam delapan pertandingan di semua ajang. Angka-angka tersebut menggambarkan pengaruh besar pemain muda itu di lini serang kedua kesebelasan.
Kombinasi gol dan assist itu membuat Yamal bukan hanya ancaman bagi pertahanan lawan, tetapi juga sosok yang mampu menghubungkan permainan di sepertiga akhir lapangan. Di Barcelona, peran seperti ini sangat penting, terutama ketika tim membutuhkan kreativitas untuk membongkar pertahanan rapat milik lawan. Kepercayaan Flick kepada Yamal pun tidak hanya berlandaskan pada bakat, tetapi juga pada rasa tanggung jawab yang ditunjukkan pemain muda tersebut.
Tantangan Mengelola Pemain Muda
Komentar Flick juga menyentuh tantangan yang melekat pada pemain muda, yaitu menjaga kontribusi tanpa mengabaikan pengelolaan menit bermain. Pelatih itu menyebut pemain muda seperti Yamal dan Pau Cubarsi pulih lebih cepat, tetapi ia tidak menyatakan bahwa mereka harus selalu bermain penuh. Pendekatan seperti ini penting agar pemain tetap bugar sepanjang musim yang padat dan terhindar dari risiko cedera.
Dalam sepak bola modern, pengelolaan beban kerja pemain muda menjadi perhatian serius. Jadwal pertandingan yang padat, ditambah keterlibatan di level klub dan tim nasional, membuat pemain belia rentan mengalami kelelahan kronis apabila tidak diatur dengan baik. Flick tampaknya sadar betul akan hal ini, sehingga ia menekankan pentingnya keseimbangan antara memberi kesempatan bermain dan menjaga kondisi fisik jangka panjang.
Bagi Barcelona, performa Yamal menjadi modal penting menjelang laga lanjutan Liga Spanyol melawan Getafe. Kehadirannya di sektor serang memberi ancaman tersendiri bagi tim tamu, sementara pujian Flick memperlihatkan bahwa pelatihnya tidak hanya menaruh perhatian pada hasil pertandingan, tetapi juga pada dorongan pemain muda untuk terus berkembang dan siap bermain.
Barcelona akan menghadapi Getafe di Camp Nou pada Sabtu (10/10/2026) malam WIB. Perhatian berikutnya tertuju pada peran Yamal dalam pertandingan itu dan bagaimana Flick mengatur menit bermainnya. Jika sang pemain terus mempertahankan performa dan mentalitas seperti yang dipuji pelatihnya, bukan hal mustahil ia benar-benar menginjak level pemain terbaik dunia dalam beberapa tahun mendatang.
