Bournemouth tampil perkasa di depan pendukungnya sendiri dengan menghancurkan AC Milan 3-0 pada laga ketiga fase grup Liga Europa di Vitality Stadium, Jumat (23/10/2026) dini hari WIB. Seluruh gol The Cherries lahir dari situasi bola mati: dua penalti dan satu tendangan bebas Amine Adli. Kemenangan ini menjadi pukulan telak bagi Milan yang datang dengan modal dua kemenangan beruntun.
Dua Penalti dan Satu Tendangan Bebas
Bournemouth membuka keunggulan pada menit kedelapan setelah wasit menunjuk titik putih. Bek Milan, Koni De Winter, dianggap menyentuh bola dengan tangan ketika berusaha menghalau tandukan Evanilson di dalam kotak penalti. Justin Kluivert yang maju sebagai eksekutor tidak menyia-nyiakan kesempatan dan menaklukkan Mike Maignan dengan tenang. Keputusan itu langsung mengubah tempo pertandingan, memaksa Milan bermain lebih hati-hati di area pertahanannya sendiri.
Petaka bagi tim tamu justru datang sembilan belas menit kemudian. Dalam situasi sepak pojok, Maignan—kapten sekaligus kiper utama Milan—mendorong Tyler Adams dengan kedua tangan ke arah wajah. Wasit tidak ragu mengusir Maignan dan memberikan penalti kedua kepada tuan rumah. Marcus Tavernier mengeksekusi hadiah tersebut dengan baik, membawa Bournemouth masuk ke ruang ganti dengan keunggulan 2-0. Milan pun harus melanjutkan laga dengan sepuluh pemain, kehilangan penjaga gawang utamanya sekaligus ruang untuk mengendalikan permainan.
Adli menutup pesta gol pada menit ke-83 melalui tendangan bebas yang tidak mampu diantisipasi kiper pengganti. Momen itu menjadi penegasan betapa efektifnya Bournemouth memaksimalkan setiap kelengahan lawan dalam situasi bola mati. Dua penalti dan satu sepakan bebas bukanlah kebetulan semata, melainkan cerminan cara tim memanfaatkan peluang, terutama setelah Milan kehilangan satu pemain dan terpaksa menata ulang lini belakangnya secara mendadak.
Rekor Sempurna di Kampanye Eropa Perdana
Kemenangan ini menjaga awal sempurna Bournemouth di kompetisi Eropa musim ini. Sebelumnya mereka sudah mengalahkan Real Sociedad dan Sturm Graz pada dua laga pembuka, sehingga kini mengoleksi sembilan poin dari tiga pertandingan. Bagi klub yang tengah menjalani kampanye Eropa perdana dalam sejarahnya, mengalahkan Milan—klub dengan tujuh gelar juara Eropa—merupakan hasil yang bersejarah dan sekaligus menandai kematangan skuad asuhan pelatih mereka.
Di sisi lain, Milan datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah dua kemenangan beruntun atas Salzburg dan Atalanta. Pelatih Ruben Amorim kembali ke Inggris untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Manchester United pada Januari lalu, namun timnya gagal mempertahankan rekor positif tersebut di pesisir selatan. Kekalahan ini memaksa Amorim menghadapi pertanyaan besar soal disiplin pemain dan ketahanan mental skuadnya dalam laga-laga besar di kompetisi Eropa.
Kedua tim sebenarnya tidak tampil dengan kekuatan penuh. Bournemouth belum bisa menurunkan Eli Junior Kroupi meski sang pemain telah kembali berlatih setelah cedera kaki, sementara Alex Scott dan Julián Araujo harus absen karena cedera. Milan kehilangan bek Matteo Gabbia dan pemain sayap Alexis Saelemaekers. Namun perbedaan pada malam itu ditentukan oleh efektivitas bola mati dan satu momen kelengahan yang berujung kartu merah.
Ujian Berikutnya bagi Kedua Tim
Hasil ini menambah catatan impresif Bournemouth di awal perjalanan Eropa mereka dan membuka peluang besar untuk melaju ke babak berikutnya. Bagi Milan, malam di Vitality Stadium menjadi bahan evaluasi menyeluruh: kartu merah Maignan tidak hanya merugikan tim pada laga ini, tetapi juga berpotensi membuat sang kiper absen pada pertandingan berikutnya. Amorim dituntut segera merespons kekalahan telak tersebut agar momentum positif yang telah dibangun tidak runtuh.
Laga berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya, baik bagi The Cherries untuk menjaga laju kemenangan mereka maupun bagi Milan untuk membuktikan bahwa hasil buruk di Inggris hanyalah kecelakaan sesaat. Dalam sepak bola Eropa, kemampuan bangkit setelah kekalahan telak sering kali menjadi penentu arah sebuah tim di sepanjang musim.
