Raditya Dika Rajin Jaga Kebersihan Gigi Usai Ditegur

Raditya Dika membagikan cerita tentang perjalanan perawatan giginya yang berubah cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu ia hanya mengandalkan sikat gigi biasa, kini rutinitasnya bertambah dengan flossing dan pembersihan lidah. Perubahan ini disebutnya berawal dari sebuah teguran sederhana yang datang dari seorang perempuan asing di luar negeri, yang membuatnya sadar bahwa kebersihan mulut bukan hal yang bisa dianggap remeh.

Dari Sikat Gigi Biasa ke Rutinitas yang Lebih Lengkap

Dalam ceritanya, Raditya mengaku bahwa perawatan gigi awalnya bukan prioritas utama. Menyikat gigi dua kali sehari sudah dianggap cukup, tanpa memikirkan detail lain seperti sela-sela gigi yang sulit dijangkau bulu sikat. Pandangan itu berubah ketika ia berada di luar negeri dan mendapat komentar atau peringatan dari seorang perempuan asing soal kondisi napas serta kebersihan giginya. Teguran tersebut, meski terasa menohok, justru menjadi titik balik yang membuatnya mulai mempelajari cara merawat gigi dan mulut dengan lebih benar.

Sejak saat itu, ia mulai menambahkan flossing atau membersihkan sela gigi dengan benang khusus ke dalam rutinitas harian. Flossing sendiri merupakan langkah yang sering terlewatkan oleh banyak orang, padahal sikat gigi tidak mampu menjangkau seluruh permukaan gigi, terutama bagian di antara gigi dan area di bawah garis gusi. Sisa makanan yang tertinggal di sana dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri penyebab plak, karang gigi, radang gusi, hingga bau mulut. Dengan rutin menggunakan benang gigi, risiko masalah tersebut bisa ditekan secara signifikan.

Selain flossing, Raditya juga menyebut pentingnya membersihkan lidah. Bagian mulut yang satu ini sering luput dari perhatian, padahal permukaan lidah memiliki tekstur yang mudah menangkap sisa makanan dan bakteri. Penumpukan bakteri di lidah merupakan salah satu penyebab utama bau napas tidak sedap. Membersihkan lidah bisa dilakukan dengan pembersih lidah khusus atau dengan menggosok permukaan lidah menggunakan bulu sikat secara perlahan. Langkah sederhana ini memberi dampak besar terhadap kesegaran napas dan kesehatan mulut secara keseluruhan.

Kesadaran Kesehatan Mulut yang Masih Rendah

Kisah Raditya Dika sebenarnya mencerminkan persoalan yang cukup umum di masyarakat. Banyak orang masih memandang kesehatan gigi dan mulut sebagai hal sekunder, baru diperhatikan ketika sudah muncul keluhan seperti nyeri, gusi berdarah, atau gigi berlubang. Padahal, kesehatan mulut berkaitan erat dengan kesehatan tubuh secara menyeluruh. Infeksi pada gusi, misalnya, dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan lain karena bakteri dapat masuk ke aliran darah. Kebiasaan sederhana seperti flossing dan membersihkan lidah memang terasa merepotkan pada awalnya, tetapi manfaatnya bersifat jangka panjang.

Peran edukasi juga menjadi sorotan dalam konteks ini. Banyak orang tidak melakukan flossing bukan karena malas, melainkan karena tidak pernah diajari caranya atau tidak menyadari pentingnya. Kampanye kesehatan gigi di sekolah, puskesmas, dan media sosial memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan sejak dini. Ketika figur publik seperti Raditya Dika terbuka membicarakan rutinitas perawatan giginya, informasi tersebut dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan mendorong perubahan perilaku yang lebih baik di kalangan pengikutnya.

Hal lain yang bisa dipetik dari cerita ini adalah pentingnya pemeriksaan rutin ke dokter gigi. Banyak masalah gigi dan gusi berkembang tanpa gejala awal yang jelas, sehingga baru terdeteksi ketika kondisinya sudah cukup parah. Pemeriksaan berkala memungkinkan penanganan lebih dini dan mencegah perawatan yang lebih mahal serta rumit di kemudian hari. Dokter gigi juga dapat memberikan saran yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien, termasuk teknik menyikat gigi yang tepat dan penggunaan alat bantu tambahan.

Perubahan yang dialami Raditya Dika menunjukkan bahwa kebiasaan baik bisa lahir dari momen yang tak terduga, termasuk dari kritik yang terasa kurang menyenangkan. Bagi pembaca, kisah ini bisa menjadi pengingat bahwa perawatan gigi bukan sekadar soal penampilan, tetapi bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Menambahkan flossing dan pembersihan lidah ke rutinitas harian hanya membutuhkan beberapa menit, namun dampaknya terhadap kenyamanan, kepercayaan diri, dan kesehatan jangka panjang sangat berarti. Tidak perlu menunggu ditegur orang lain untuk mulai memperbaikinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *