Seniman senior Jaja Mihardja mengaku santai terhadap jargon ikoniknya, “Apaan Tuh?”, yang telah lama melekat pada dirinya. Pria berdarah Betawi tersebut memilih untuk tidak mematenkan jargon itu dan membiarkan siapa pun bebas menggunakannya, meski tetap memiliki gaya khas yang sulit ditiru. Sikapnya ini menegaskan bahwa ia lebih mementingkan kebahagiaan orang banyak ketimbang memperjuangkan hak eksklusif atas sebuah frasa.
Jargon yang Menjadi Milik Publik
Bagi Jaja Mihardja, jargon “Apaan Tuh?” bukan sekadar alat untuk mengundang tawa. Frasa tersebut sudah menjadi bagian dari identitas dirinya sebagai seniman yang akrab dengan budaya Betawi. Meski begitu, ia tidak pernah berniat menjadikannya sebagai aset pribadi yang dilindungi secara hukum. Ia justru senang ketika orang lain, mulai dari penggemar hingga sesama artis, ikut mengucapkan jargon itu dalam berbagai kesempatan.
Pandangan ini menunjukkan bahwa Jaja memahami betul karakter dunia hiburan, khususnya komedi. Sebuah jargon yang berhasil biasanya lahir dari interaksi spontan dengan penonton dan bukan dari perencanaan yang kaku. Ketika sebuah frasa sudah diterima masyarakat, ia akan hidup dengan sendirinya dan menjadi milik publik. Upaya mematenkan jargon justru berpotensi membatasi kreativitas dan mengurangi kehangatan hubungan antara seniman dengan para penggemarnya.
Sikap Jaja ini juga mencerminkan kerendahan hati seorang seniman senior. Ia tidak merasa perlu mengklaim eksklusivitas atas sesuatu yang pada dasarnya lahir dari budaya sehari-hari masyarakat Betawi. Bahasa dan gaya bicara khas Betawi memang sejak lama kaya akan ungkapan-ungkapan spontan yang kemudian dikenal luas melalui panggung hiburan. Dengan membiarkan jargon “Apaan Tuh?” bebas digunakan, Jaja sesungguhnya turut melestarikan kekayaan bahasa tersebut.
Perjalanan Panjang Seorang Seniman Betawi
Jaja Mihardja bukan nama baru di industri hiburan Tanah Air. Ia telah puluhan tahun berkecimpung di dunia seni, mulai dari dunia tarik suara, akting, hingga komedi. Nama besarnya semakin melekat di hati masyarakat ketika ia berperan dalam sinetron populer yang mengangkat kehidupan warga Betawi. Peran tersebut membuat gaya bicaranya dan jargon-jargonnya semakin akrab di telinga penonton dari berbagai generasi.
Sebagai seniman asal Betawi, Jaja kerap menampilkan sisi budaya yang cair dan penuh keakraban. Salah satu ciri khas masyarakat Betawi adalah cara berkomunikasi yang lugas, jenaka, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jargon “Apaan Tuh?” menjadi salah satu bentuk ekspresi itu: sederhana, singkat, namun mampu memancing reaksi spontan dari siapa saja yang mendengarnya. Hal inilah yang membuat jargon tersebut mudah diingat dan cepat menyebar luas di masyarakat.
Di industri hiburan Indonesia, banyak seniman yang memiliki jargon khas sebagai ciri pengenal. Namun tidak semuanya menjadikan jargon tersebut sebagai properti yang dilindungi. Sebagian memilih membiarkannya mengalir bebas sebagai bagian dari warisan budaya populer. Sikap Jaja pun sejalan dengan pandangan bahwa kreativitas sering kali lahir dari ruang publik, sehingga tidak selalu tepat untuk diklaim secara pribadi.
Pelajaran tentang Kreativitas dan Kerendahan Hati
Keputusan Jaja Mihardja untuk tidak mematenkan jargonnya memberi gambaran menarik tentang bagaimana seorang seniman memandang karya dan ketenaran. Di tengah persaingan industri hiburan yang makin ketat, di mana banyak pihak berlomba mengamankan hak atas segala sesuatu yang bisa dikomersialkan, sikap Jaja menjadi semacam pengingat. Ada nilai-nilai seperti keikhlasan dan kedekatan dengan penggemar yang tidak bisa diukur dengan keuntungan semata.
Meski tidak dipatenkan, bukan berarti siapa pun bisa meniru gaya Jaja secara utuh. Ia tetap memiliki cara pengucapan, ekspresi, dan penjiwaan yang khas sehingga tidak mudah disamai. Menurutnya, setiap orang memang boleh menggunakan jargon yang sama, tetapi hasilnya akan berbeda karena tiap orang punya kepribadian masing-masing. Justru dari perbedaan itulah sebuah pertunjukan menjadi lebih hidup dan menarik.
Ke depan, sikap Jaja Mihardja ini menunjukkan bahwa keberhasilan seorang seniman tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak yang bisa ia klaim sebagai milik pribadi. Sebaliknya, keleluasaan bagi publik untuk ikut merayakan sebuah jargon bisa memperpanjang umur sebuah karya. Selama masyarakat masih mengenang dan menggunakannya, jargon “Apaan Tuh?” akan terus hidup sebagai bagian dari cerita hiburan Indonesia. Dan bagi Jaja, biarlah frasa sederhana itu tetap menjadi milik semua orang.
