Kopi Kenangan Unggul Gerai, FORE Tumbuh 52 Persen

Persaingan industri kopi Tanah Air semakin menarik untuk dicermati. Kopi Kenangan masih memimpin jauh dari sisi jumlah gerai dengan 1.289 kedai yang tersebar di 141 kota, sementara FORE menorehkan pendapatan Rp 1 triliun pada semester pertama 2026 atau tumbuh 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dua pemain besar ini menempuh lintasan bisnis yang berbeda, sehingga perbandingan di antara keduanya tidak bisa dibaca hanya dari satu indikator semata.

Skala Jaringan Kopi Kenangan Masih Terdepan

Kopi Kenangan tercatat membukukan EBITDA sebesar US$ 37 juta dan laba bersih US$ 18 juta pada 2025. Mengacu pada keterangan resmi perusahaan terkait laporan ESG 2025, nilai laba bersih tersebut setara dengan lebih dari Rp 300 miliar. Pada akhir tahun itu, jaringan Kopi Kenangan telah mencapai 1.173 gerai di Indonesia dan beroperasi di enam negara, menandakan bahwa ekspansi perusahaan tidak lagi hanya bertumpu pada pasar domestik, tetapi juga menyentuh sejumlah pasar internasional.

Jumlah tokonya terus bertambah sepanjang tahun berjalan. Situs resmi Kopi Kenangan, yang diakses pada Selasa (6/10/2026), mencatat perusahaan telah mengoperasikan 1.289 gerai di 141 kota. Angka tersebut menunjukkan jangkauan domestik yang semakin luas dibandingkan catatan akhir 2025, sekaligus menegaskan posisi Kopi Kenangan sebagai jaringan kedai kopi dengan sebaran gerai terbesar di antara para pesaing utamanya. Perluasan ke 141 kota memperlihatkan strategi penetrasi pasar yang menyasar tidak hanya kota-kota besar, tetapi juga wilayah dengan potensi pertumbuhan konsumsi kopi yang masih terbuka lebar.

Dari sisi jumlah gerai, jarak antara Kopi Kenangan dan FORE memang masih cukup lebar. Namun, besarnya jaringan tidak otomatis menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah perusahaan. Efisiensi operasional, kemampuan menghasilkan laba, serta kecepatan pertumbuhan menjadi indikator lain yang sama pentingnya dalam menilai kesehatan bisnis di sektor yang sangat kompetitif ini.

FORE Menunjukkan Laju Pertumbuhan Pendapatan

FORE juga menutup 2025 dengan catatan ekspansi jaringan yang signifikan. PT Fore Kopi Indonesia Tbk, perusahaan yang menaungi merek Fore Coffee, membukukan penjualan neto Rp 1,49 triliun dan laba bersih Rp 90,13 miliar sepanjang tahun tersebut. Per akhir 2025, perusahaan memiliki 316 kedai di Indonesia serta empat kedai di Singapura, sehingga totalnya mencapai 320 kedai di dua negara. Capaian itu menjadi fondasi bagi perusahaan untuk melangkah lebih jauh pada tahun berikutnya.

Perkembangan terbaru FORE datang dari kinerja semester I-2026. Perusahaan melaporkan pendapatan Rp 1 triliun, naik 52 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah gerai aktif bertambah 44 persen menjadi 377. Pertumbuhan gerai aktif itu memberi gambaran tentang perluasan operasi FORE setelah menutup 2025 dengan 320 kedai di dua negara. Angka 377 juga mencakup peningkatan jaringan yang dilaporkan perusahaan pada semester pertama, meski bahan yang tersedia tidak merinci pembagian lokasi gerai terbaru tersebut.

Angka pertumbuhan 52 persen secara tahunan menunjukkan bahwa FORE mampu mempercepat laju pendapatannya, sebuah capaian yang patut diperhatikan di tengah persaingan yang ketat. Penambahan gerai aktif sebesar 44 persen juga mengindikasikan bahwa strategi ekspansi perusahaan berjalan seiring dengan upaya mendorong penerimaan. Kombinasi antara pertumbuhan pendapatan dan penambahan jaringan ini menjadi sinyal bahwa FORE tengah berupaya memperbesar pangsa pasarnya secara agresif.

Membaca Perbandingan dengan Cermat

Perbandingan jumlah gerai perlu dibaca dengan memperhatikan periode datanya. Catatan Kopi Kenangan sebanyak 1.289 gerai berasal dari situs yang diakses pada Oktober 2026, sedangkan data FORE sebanyak 377 gerai aktif merujuk pada semester pertama 2026. Karena itu, kedua angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan posisi kedua perusahaan pada tanggal yang sama. Pembaca perlu berhati-hati agar tidak menarik kesimpulan yang terlalu menyederhanakan dari data yang rentang waktunya berbeda.

Dari sisi laba 2025, Kopi Kenangan melaporkan laba bersih lebih dari Rp 300 miliar, sementara FORE mencatat Rp 90,13 miliar. Perbedaan skala jaringan dan hasil keuangan itu menandai dua lintasan bisnis yang tidak identik: Kopi Kenangan memiliki jangkauan gerai lebih besar, sedangkan FORE menunjukkan pertumbuhan pendapatan tahunan yang tinggi pada enam bulan pertama 2026. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persaingan di industri kopi nasional tidak berjalan linear, melainkan dipengaruhi oleh strategi masing-masing perusahaan dalam mengelola jaringan, biaya operasional, dan basis pelanggan.

Catatan berikutnya yang akan memperjelas persaingan ialah laporan kinerja kedua perusahaan setelah periode semester pertama, termasuk perkembangan jumlah gerai aktif FORE dan jaringan Kopi Kenangan. Bagi pelaku pasar dan pengamat industri, rangkaian laporan tersebut akan menjadi penanda penting untuk menilai arah pertumbuhan sektor kopi Indonesia ke depan, terutama di tengah dinamika konsumsi, perubahan perilaku pelanggan, dan persaingan yang kian ketat antar para pemain utama.

Sumber: investor.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *